Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Pakai mobnas, pemerintah menghemat dana mobil dinas

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) hari ini menandatangani Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) penunjukan langsung kendaraan pemerintah bersama 9 Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) mobil.

Penandatanganan tersebut dipimpin Kepala LKPP Agus Rahardjo di kantor LKPP, Gedung Smesco UKM, Jakarta, Jumat (27/5/2011).

"SPK penunjukan langsung pengadaan kendaraan pemerintah ini adalah kontrak payung antara LKPP dengan penyedia kendaraan," kata Agus.

Penandatanganan tersebut dilakukan bersama dengan sembilan ATPM antara lain Suzuki, Toyota, Daihatsu, Mitsubishi, Ford, Mazda, KIA, Nissan, dan Isuzu.

"Tujuannya, agar menjadi pedoman dan aturan bagi Kementerian/Lembaga dalam melakukan penunjukkan langsung pendadaan kendaraan pemerintah yang spesifikasi dan acuan HPS (Harga Perkiraan Sendiri) telah ditetapkan dalam SPK di atas LKPP dan ATPM," jelasnya.

Hal itu dimaksudkan supaya pengadaan kendaraan pemerintah sesuai dengan tata nilai pengadaan. "Tindak lanjutnya adalah layanan perangkat lunak berbasis web aplikasi sistem penunjukan langsung pengadaan kendaraan pemerintah," ujar Agus.

Menurutnya, adanya penandatanganan SPK tersebut akan beri keuntungan pengguna (pemerintah) maupun dari sisi penyedia kendaraan pemerintah.

"Kita berharap ke depannya bisa dapat harga yang lebih murah. Kita tidak ingin merugikan penyedia, tetap ada margin. Namun perlu diingat, APBN kita dari 1200 triliun, secara keseluruhan untuk pengadaan tidak mencapai Rp 450 triliun. Maka itu, diharapkan ke depannya untuk pengadaan kepada pemerintah harganya bisa lebih murah, karena nantinya penghematan bisa dialokasikan untuk pendidikan, pelayanan masyarakat, dan sebagainya," tutur Agus.

"Pemerintah dapat melakukan efisiensi waktu dan anggaran, pelayanan baik harga terbaik. Sedangkan dari sisi penyedia dapat diperoleh iklim persaingan atas penyedia yang lebih adil dan berkualitas, serta waktu yang singak dan pengurangan biaya," tukas Agus.

Dirinya menambahkan, sebelumnya selalu dilakukan degan cara tender atau lelang. Hal tersebut mengakibatkan harga yang diinginkan di pasaran seharusnya rendah malah ada yang ditinggikan (mark up).

"Maka itu, dengan cara seperti ini harganya tidak akan mahal. Ada kelebihan atau diskon akan diberikan ke negara. Kalau tidak dilakukan nanti bisa diurus KPK," tegasnya.

Katanya, dengan sistem penujukkan ini maka proses pengadaan akan lebih cepat dan tidak membutuhkan waktu lama. Harga yang sudah ditetapkan dapat menjadi acuan bagi tiap lembaga pemerintah yang ingin melakukan pengadaan kendaraan.

"Diperkirakan untuk pengadaan kendaraan ini bisa dihemat kira-kira 10-15%," tutupnya.

Meski mengeruk milyaran dolar dari pasar dan bumi Indonesia, Eropa, US dan Jepang tak segan penjarakan 200 juta rakyat Indonesia bila produksi mobnas

Tema : Attitude Change (Perubahan Tingkah Laku) sebagai Efek Transnasionalisme dalam Politik Dunia
Kasus : Indonesia dan WTO dalam masalah Mobnas (Mobil Nasional) “Timor"

Efek transnasionalisme salah satunya adalah Attitude Change (Perubahan Tingkah Laku). Maksudnya adalah hubungan antara organisasi transnasional dengan negara diharapkan bisa merubah kebijakan negara tersebut. Kebijakan yang memang merupakan kepentingan dari organisasi transnasional. Oleh karena itu mereka berusaha membawa ide baru, hal baru dan norma yang dikemukakan mereka kepada negara yang dituju.

Kasus WTO dan Indonesia dalam masalah Mobnas (Mobil Nasional) Timur menujukkan bahwa organisasi Transnasional (dalam hal ini adalah WTO) bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah Indonesia. Awal mula muncul kasus ini karena inisiatif pemerintah Indonesia dalam mendukung dan ingin meningkatkan industri mobil nasional. Oleh karena itu, pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan program Mobil Nasional yaitu bisa dilihat dalam Inpres No.2 tahun 1996 mengenai Program Mobil Nasional bahwa sebagai sebuah terobosan di sektor otomotif Indonesia. Tujuan Mobnas (Mobil Nasional) adalah sebagai embrio kemajuan dan kemandirian bangsa Indonesia dalam industri otomotif.1) Program Mobnas ini yang menunjuk PT Timor Putra Nasional (TPN) sebagai pelopor yang memproduksi Mobnas sayangnya Mobnas masih belum dapat memproduksi di dalam negeri, maka perlu dikeluarkan Keppres No. 42 tahun 1996 yang mengizinkan PT TPN mengimpor Mobnas yang kemudian diberi merek “Timor” (baik dalam bentuk jadi atau completely build-up/ CBU dari Korea Selatan.2)




Hal ini mendatangkan reaksi dari beberapa pihak yaitu Jepang, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Jepang yang paling berusaha keras kerena mempunyai kepentingan kuat dalam industri otomotifnya yang telah menguasai hampir 90% pangsa mobil Indonesia. Reaksi lain dari Amerika dan beberapa negara Eropa gelisah karena mereka berencana menanamkan investasi dalam industri otomotif di Indonesia. Akhirnya terjadi dialog antara Jepang dan pemerintah Indonesia dan hasilnya dead lock. Kemudian tindakan lanjutan dari Jepang yaitu melalui Wakil Menteri Perdagangan Internasional dan Industrinya menyatakan bahwa mereka akan membawa masalah ini ke WTO.

Indonesia secara resmi telah bergabung dengan World Trade Organization (WTO) dengan ratifikasi konvensi WTO dalam Undang-Undang No.7 tahun 1994 secara hukum Indonesia sudah terikat kepada ketentuan- ketentuan General Agreements on Tariff and Trade (GATT). Dalam GATT ada prinsip- prinsip yang telah dilanggar Indonesia yang terkait dengan kebijakan Mobnas Timor, prinsip- prinsip berikut adalah:



-Prinsip National Treatment, Artikel III, Paragraph ke-4 GATT 1994
Intinya tentang kewajiban negara untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap semua investor asing. Kebijakan Mobil Nasional dianggap telah melanggar ketentuan ini karena pemberian fasilitas penghapusan bea masuk dan penghapusan pajak barang mewah yang hanya diberikan pada PT. Timor Putra Nasional.
-Prinsip Penghapusan Hambatan Kuantitatif, Artikel XI, Paragraf ke-1 GATT 1994
Intinya tentang GATT mengizinkan tindakan proteksi terhadap industri domestik melalui tariff dan tidak melalui upaya perdagangan lainnya (non-tariff). Perlindungan melalui tariff ini masih memungkinkan masih ada kompetisi yang sehat dalam perdagangan internasional. Kebijakan Mobnas dianggap telah melanggar ketentuan ini karena pemerintah Indonesia dianggap telah melanggar ketentuan kewajiban investor menggunakan bahan baku, bahan setengah jadi, komponen juga suku cadang produksi dan proses produksi otomotif dalam negeri (industri otomotif Indonesia) ketentuan ini dikenal sebagai Persyaratan Kandungan Lokal. Berdasarkan ketentuan GATT yang diimplementasikan dalam aturan Trade Related Investment Measures bahwa kebijakan Persyaratan Kandungan Lokal merupakan salah satu kebjakan investasi yang berbentuk non-tariff dan harus dihapus karena bisa merusak kestabilan perdagangan internasional.3)

Pelanggaran Indonesia dalam WTO sudah cukup jelas. Maka pemerintah harus melakukan beberapa kebijakan- kebijakan untuk memperbaiki keadaan, kebijakan- kebijakan tersebut yaitu:
-Penghapusan bea masuk dan penghapusan pajak barang mewah yang mulanya hanya diberikan pada PT. Timor Putra Nasional. Logikanya ketika hal ini dilakukan maka biaya produksi mereka akan naik sehingga membuat harga jual mobil Timor menjadi rata- rata (sama dengan harga jual mobil buatan negara lain yang dijual di Indonesia). Hal tersebut tidak akan mengancam posisi investor asing karena sama-sama menggunakan harga jual yang standar.
-Penghapusan kebijakan pemerintah tentang ketentuan Persyaratan Kandungan Lokal (bentuk non-tariff) supaya perdagangan internasional dapat berjalan secara adil.
Perbaikan kebijakan tersebut nyatanya membuat Mobil Nasional “Timor” menjadi terancam bangkrut. Angka penjualan merosot dan banyak sekali mobil yang tersimpan dalam gudang Kerawang dan Cengkareng yang jumlahnya sekitar 15.000 unit pada tahun berikutnya.4)

Berdasarkan kasus antara WTO dan Indonesia mengenai masalah Mobnas (Mobil Nasional) Timor bisa disimpulkan bahwa organisasi Transnasional (WTO) bisa membuat perubahan tingkah laku dalam suatu negara yaitu berupa perubahan kebijakan mereka. WTO menentang tentang kebijakan Indonesia tentang Mobnas dan akhirnya Indonesia mengubah kebijakannya sesuai keinginan WTO. Sehingga efek Transnasionalisme dalam politik dunia dapat ditemukan dalam kasus ini.

Footnote:
1) Dani, Sengketa Mobil Nasional Indonesia, dalam http://one.indoskripsi.com, 2008, diakses tanggal 22 Oktober 2009 pukul 05.09 pm.
2) ___, Met or Zonder WTO, Timor Terus Melaju, dalam http://www.tempo.co.id, 1997, diakses tanggal 22 Oktober 2009 pukul 05.14 pm.
3) Dani, Sengketa Mobil Nasional Indonesia, dalam http://one.indoskripsi.com, Op cit.
4) ___, Mungkin, Beli Mobil Timor Pakai Kupon, dalam http://www.tempointeraktif.com, 1998, diakses tanggal 22 Oktober 2009 pukul 05.02 pm.

REFERENSI
_____. 1997. Jangan Ada Lagi Kebijakan Hit and Run. Dalam http://www.tempointeraktif.com. Diakses tanggal 22 Oktober 2009 pukul 05.23 pm
_____. 1996. Jepang belum Adukan soal 'Timor' ke WTO. Dalam http://www.republika.co.id. Diakses tanggal 22 Oktober 2009 pukul 04.42 pm
_____. 1997. Met or Zonder WTO, Timor Terus Melaju. Dalam http:// www.tempo.co.id. Diakses tanggal 22 Oktober 2009 pukul 05.14 pm
_____. 1998. Mungkin, Beli Mobil Timor Pakai Kupon. Dalam http://www.tempointeraktif.com. Diakses tanggal 22 Oktober 2009 pukul 05.02 pm
_____. 1996. Timor Tenang-Tenang Hadapi Gugatan WTO. Dalam http://www.jawapos.co.id. Diakses tanggal 22 Oktober 2009 pukul 05.12 pm
Dani. 2008. Sengketa Mobil Nasional Indonesia. Dalam http://one.indoskripsi.com. Diakses tanggal 22 Oktober 2009 pukul 05.09 pm

Jepang produksi mobil murah di China seharga Rp 23,5 Juta, bukan di Indonesia

Sejak pertama kali diperlihatkan, Tata Nano langsung menghentak dunia dan menjadi mobil termurah sejagat. Tapi kini, Tata Nano mendapat saingan dari China, Jiangnan Alto yang dijual hanya lima ribu rupiah lebih mahal dari Tata Nano.

Di India, Tata Nano dilepas mulai harga 124.106 rupee atau sekitar Rp 23.519.154,- sementara Jiangnan Alto baru saja dijual di China dengan dengan harga 17.800 yuan atau sekitar Rp 23.524.677,- atau Rp 5.523,- lebih mahal.

Namun, harga ini sebenarnya masih lebih murah dari perkiraan awal. Sebab tahun lalu, Jiangnan Alto diperkirakan akan dilepas dengan harga 20.000 RMB atau sekitar Rp 26,4 jutaan

Meski selisih harga ini tergolong sangat tipis, tapi praktis dengan selisih harga ini Tata Nano pun berhasil mempertahankan predikatnya sebagai mobil termurah di dunia.

Jiangnan Alto yang kini harus puas hanya menjadi mobil termurah di China ini seperti detikOto kutip dari china car times, Jumat (26/5/2011), diboyong oleh Zoyte setelah sekian lama vakum di pasar China.

Mobil yang desainnya sederhana ini sebenarnya adalah sebuah Suzuki Alto yang pernah masuk pasaran China pada medio 90an sampai 2000an awal. Ketika itu, Suzuki Alto dibawa oleh empat pabrikan mobil lokal yakni Chang’an Auto, Jiang Nan, Xi’an Tai dan Sichuan Auto.

Di tangan keempatnya, nama Suzuki Alto kemudian berubah menjadi Chang’an Alto, Jiangbei Alto, Jiangnan Alto dan Tai Chuan Alto sebelum akhirnya berhenti dipasarkan.

Kini setelah kembali ke pasar, mobil ini pun langsung menghentak. Sektor dapur pacu mobil ini dikatakan telah mengalami peningkatan kualitas hingga memenuhi standar emisi Chinese5.

Di atas kertas, Jiangnan Alto memiliki keunggulan di sektor mesin dibanding dengan Tata Nano. Bila Tata Nano hanya mengusung mesin 623 cc dengan tenaga hanya 33 PS, Jiangnan Alto hadir dengan mesin 800 cc berkekuatan 36 bhp.

Melihat hal itu, Tata Nano sepertinya kini harus segera waspada. Apalagi ada beberapa pabrikan mobil yang sudah secara terang-terangan ingin menantang pabrikan India itu dalam membuat mobil termurah di dunia.

Seperti pabrikan mobil China, Geely yang memiliki rencana untuk mengeluarkan sebuah mobil sangat murah bernama Intelligent Geely (IG) yang bahkan harganya dibawah harga Tata Nano yakni hanya 10.000 RMB atau sekitar Rp 13,5 jutaan. Mobil ini rencananya akan diproduksi pada tahun 2013 mendatang.

Atau mobil mungil buatan Nissan-Renault yang kabarnya akan menyaingi Tata Nano dengan harga US$ 2.500 atau sekitar Rp 21,4 jutaan saja.

WTO, Jepang dan Mobnas Timor

"Mungkin, Beli Mobil Timor Pakai Kupon"

Mobil Timor ketubruk di WTO! Berita itu sebetulnya tidak lagi mengejutkan masyarakat. Sejak awal, memang banyak yang mengecam subsidi pemerintah terhadap mobil Timor yang dianggap sebagai mobil nasional itu. Tidak hanya itu, pemerintah dan IMF juga pernah bersepakat untuk membiarkan Timor melaju tanpa dorongan subsisi. Belakangan, pemerintah rupanya tak tega melihat "mobil nasional" ini mogok di pasaran. Sebuah Keppres pun datang menyelamatkannya.

Wawancara Suhari Sargo:

Di luar itu , Jepang terus melaju ke WTO. Jepang memperkarakan Timor ini di Organisasi Perdagangan Dunia itu. Hasilnya? Ya, itu tadi. Timor kalah telak di organisasi itu. "Nasib mobil Timor benar-benar terancam setelah keputusan WTO itu", kata Suhari Sargo kepada TEMPO Interaktif. Menurut alumnus ITB (1960) itu, sebelum subsidi untuk Timor dicabut pun pemasaran mobil ini anjlok di pasaran. Bulan Maret misalnya, hanya terjual sekitar 100 unit.

Dengan kekalahan di WTO itu berarti harganya tambah melejit dan pasar akan kian meninggalkannya. Jadi, Timor bakal KO di dua tempat. Di WTO dan di pasaran.

Berikut petikan wawancara Wens M. dari TEMPO Interaktif dengan Suhari Sargo, lewat telepon, Kamis, 3 April 1998. Purnawirawan TNI- AD yang berpangkat kolonel itu memang tekun mengamati perkembangan otomotif di Indonesia.

Bagaimana tanggapan Anda atas kalahnya mobil Timor di WTO?
Sebetulnya, keputusan di WTO itu adalah juga senjata yang ampuh bagi IMF terhadap keplinplanan Indonesia dalam soal mobil Timor. Sebagaimana diketahui, Indonesia dan IMF telah bersepakat untuk tidak memberikan kemudahan kepada mobil Timor. Tetapi kemudian keluar lagi Keppres yang mencabut kesepakatan itu. Sekarang, WTO memutuskan, mobil Timor tidak boleh disubsidi. Jadi, secara umum, dapat disimpulkan bahwa kebijakan kita memang salah dalam kasus mobil Timor ini.

Apa yang terjadi dengan mobil Timor pasca kekalahan di WTO?
Nasib mobil Timor akan sangat ditentukan oleh kekuasaan pasar semata. Dengan harga yang mahal, karena tanpa subsidi tadi, nasib perusahaan mobil ini memang terancam. Karena jangankan naik harganya, dengan harga yang lama saja pembelinya sangat sedikit. Coba bayangkan, dalam bulan Maret, penjualan mobil Timor ini hanya laku sekitar 100 unit. Jadi masih ada banyak mobil Timor yang nongkrong di gudangnya.

Apakah pemerintah akan berusaha membantu?
Biasanya, memang pemerintah berusaha membantu, tetapi untuk perusahaannya saya kira pemerintah akan kesulitan menyelamatkannya. Tetapi kalau untuk mobil yang sudah diimpor, pemerintah memang masih bisa menyelamatkannya. Taruhlah misalnya, semua mobil Timor itu dijadikan taksi saja. Karena kalau mau mengunakan cara-cara seperti sebelumnya, yakni mewajibkan semua instansi untuk membeli mobil ini, saya kira sudah tidak mungkin lagi. Karena pemerintah sendiri sudah terengah-engah. Negara sudah tidak punya uang lagi untuk memborong mobil ini. Untuk makan rakyatnya saja pakai kupon segala, apalagi buat beli mobil. Kecuali kalau perusahaannya mau jual mobil Timor ini dengan mengunakan kupon gratis juga.

Jadi, tidak ada jalan buat pemerintah untuk menyelamatkan "mobnas" ini?
Bisa saja pemerintah melakukan subsidi diam-diam. Lepas dari mungkin tidaknya pemerintah melakukannya, apa yang mereka dapat setelah itu. Pasarnya kan jelas sedang jeblok. Industrinya pun belum jelas benar. Jadi tidak ada gunanya pemerintah membantu. Biarkan saja mobil Timor bersaing bebas di pasar.

Mobil Timor mampu melakukan itu?
Sangat berat sekali. Saya kira mobil Timor tidak hanya kalah di WTO, tetapi juga bakal kalah di pasar mobil. Tahun kemarin saja pasaran mobil Timor itu kalah sama mobil Baleno, Kijang, dan jenis-jenis mobil lainnya. Dalam persaingan seperti itu dan dengan pasar yang merosot, jelas mobil Timor ini akan kewalahan. Pada 1997, memang mobil ini mampu memasarkan sekitar 20.000 sampai 24.000 unit. Tetapi jumlah sebanyak itu berhasil dipasarkan selama mereka masih mendapatkan fasilitas bebas bea masuk. Tetapi mobil-mobil dengan merk yang berlainan juga tetap laris di pasaran, bahkan cenderung meningkat. Jadi, kehadiran Timor ini tidak mendesak pasaran mobil lainnya. Dia hanya menciptakan segmen pasar baru saja. Tetapi dalam awal tahun ini, pasaran mobil Timor ini anjlok. Artinya, segmen pasarnya tadi mulai susut. Apalagi kalau bebas bea masuk itu nanti dicabut.

Jumlah yang banyak pada tahun lalu itu dibeli secara kredit. Dengan habisnya subsidi pemerintah ini apakah kreditor mobil Timor terkena dampaknya?
Kredit tahun lalu itu sekarang tidak bisa diubah lagi. Karena mobilnya kan sudah diimpor tahun lalu. Yang justru menjadi masalah adalah bagaimana menjual mobil yang sekarang ditumpuk di gudang Kerawang dan Cengkareng yang jumlahnya sekitar 15.000 unit. Andaikata sekarang manajemen mobil Timor mampu memasarkan 1.000 unit setiap bulannya, itu berarti mereka membutuhkan waktu satu tahun tiga bulan untuk memasarkan produk yang sudah ada. Dengan catatan, produksinya dihentikan sama sekali. Tetapi, menurut saya, angka seribu itu terlalu besar buat Timor ini. Ya, ratusan-lah. Kalau hanya ratusan, itu berarti butuh waktu puluhan bulan untuk memasarkannya. Mobilnya keburu rusak, kan?

Kalau Timor diberi subsidi, apa ruginya buat rakyat Indonesia?
Ruginya, rakyat diabaikan dalam alokasi keuangan negara. Sebab masih banyak kebutuhan nasional yang lebih besar yang perlu disubsidi. Misalnya beras, industri kecil, kerajinan tangan, dan sebagainya. Menurut saya, itu yang harus diprioritaskan, kalau pemerintah punya uang untuk memberi subsidi. Sebab kalau dihitung, fasilitas-fasilitas yang diberikan pada mobil Timor ini jumlahnya besar sekali, sekitar 800 juta dollar. Apa tidak lebih baik dana sejumlah itu disubsidikan pada sektor yang menyangkut nasib banyak orang?

Teenage Car Karya Siswa SMK

Siswa SMK PGRI 6 Surabaya berhasil membuat mobil mungil bernama Teenage Car. Mobil yang dikerjakan hanya dalam waktu 33 hari ini mempu melaju dengan kecepatan hingga 60 Km/jam.





Mahasiswa Indonesia Siap Pecahkan Rekor Irit BBM

Sebanyak 10 tim mahasiswa Indonesia yang terdiri dari berbagai perguruan tinggi akan mencoba memecahkan rekor irit BBM di sirkuit Sepang Malaysia dalam ajang Shell Eco-marathon Asia 2001 pada 6-9 Juli 2011 nanti.

Kesepuluh tim itu terdiri dari: Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dengan tiga kendaraan irit BBM, Universitas Indonesia dengan 2 mobil irit BBM, ITB dengan 2 mobil irit BBM, UGM dengan 2 mobil, dan tim Politeknik Negeri Pontianak (Polnep) dengan 1 mobil irit. Polnep merupakan tim baru yang masuk dalam lomba irit kali ini, 4 perguruan tinggi lainnya sudah menjadi langganan.

Country Chairman dan President Director PT Shell Indonesia Darwin Silalahi menuturkan lomba irit ini terbagi dalam dua kategori yakni kendaraan urban dan kendaraan prototipe futuristik.

"Target konsumsi BBM tim mahasiswa Indonesia untuk kendaraan urban adalah 100-300 km per liter, sedangkan untuk kendaraan prototipe 600-1.500 km," ujarnya dalam peluncuran 10 kendaraan irit BBM mahasiswa di Parkir Selatan, Senayan, Sabtu (14/5/2011).

Indonesia tahun ini dalam posisi sebagai juara bertahan, mengingat tahun lalu, tim dari ITS dan UI menjadi juara Shell Eco-marathon.

"Saya sangat bahagia mendengar pada kompetisi sebelumnya sudah ada prestasi yang membahagiakan. Saya harap adik-adik bisa mencapai yang lebih tinggi lagi," ujar Wakil Presiden Boediono yang meluncurkan 10 kendaraan ini.

Selain Wapres, Mendiknas M Nuh dan Menteri ESDM Darwin Zahedy Saleh turut mendukung persiapan para mahasiswa.

Bagaimana rupa dan spesifikasi kendaraan irit mahasiswa itu tahun ini? Simak artikel berikutnya.

Rising prospect of Indonesian automotive industry

Johnny Darmawan is certainly not an ordinary man. Being the CEO of Toyota Astra Motor, he certainly has a full grasp of what is happening in the automotive industry and the way forward.

His company enjoys the largest market share in the industry that makes him the ultimate representative of the Indonesian car manufacturing industry. He frequently speaks on behalf of the Indonesian Car Manufacturing Association.

For 2010, Darmawan initially predicted that the Indonesian domestic car sales may reach 550,000 units, a number deemed optimistic when it was first stated at the end of 2009. At that time, the industry had just been bruised from a steep fall in its sales from 607,000 units in 2008 to 486,000 in 2009, an almost 20 percent drop.

It is no surprise that the industry has been deemed quite optimistic in saying that there would be a partial rebound in domestic sales compared to the 2008 record. But since then the domestic market has been moving very briskly.

In the first five months of the year, the Indonesian car sales already reached a level of around 300,000 units.

In fact, the last three months the sales hovered to more than 60,000 units every month. It is no surprise therefore that Darmawan finally revised upward the Indonesian car sales prediction in 2010 from 550,000 units to 650,000, an almost 20 percent upward revision in one year's time.

Where is the way forward? Recently there was an interesting article in the Financial Times about the rise of the Brazilian car industry. It was stated that the Brazilian car industry was becoming the fourth largest industry in the world in 2010, overtaking Germany.

Having recovered from the crisis at the end of the 90s, the Brazilian car industry quickly covered ground and made a quick rebound. What was the result?

The car sales have increased sharply from almost 1.5 million units in 2000 to more than 3 million in 2009. A twofold increase in 10 years time is certainly a miraculous come back for the industry.

Quite different to the aerospace industry in which Brazil boasted its icon Embraer Aerospace Industry, which has positioned itself as the third largest aircraft producer after Boeing and Airbus (the rank may be reversed), the Brazilian car industry was crowded by various foreign names such as Fiat, Volkswagen, General Motors, Ford, Toyota and many others.

Fiat, being the first ranked car producers in Brazil with its popular Pinto and Fiesta brand, has produced more cars in Brazil than in its headquarters in Italy.

Volkswagen, ranked number two in Brazil, is also churning many products in the country. General Motors and Ford are the two North American car industries that so far have to admit defeats to the European car manufacturers in its backyard.

The Brazilian success story in its car industrial development may provide some lessons to the Indonesian car industry on the way the Indonesian industry will lead. Looking back to the past, the Indonesian car industry also experienced a "roller coaster" like development.

Sometimes the sales increased very sharply while on other occasion it experienced a steep drop. The development is far from being linier. However, looking at a longer perspective, the Indonesian car industry has continued to grow, in fact to grow very rapidly.

As mentioned earlier, in 2008, the Indonesian car industry has made record breaking sales of more than 600,000 units.

In addition, the Indonesian industry also actively sold its products to overseas markets. While the data are quite scanty, inferring from the BPS (Central Statistics Agency), we can predict that the Indonesian car exports (both in the form of Completely Built Up, Completely Knocked Down or in the form of components) may reach around 300,000 units.

Thus both the domestic and export car sales have almost touched the psychological level of 1 million cars annually. If that number is achieved, we may have to celebrate it as one milestone for the Indonesian car industry.

Just like what has been achieved by the Brazilian car industry in 2000, we may have approached that level in the not-too-distant future, 10 years behind Brazil.

Recently, Hino truck manufacturers has just expanded its truck production capacity from 10,000 units annually to 35,000 in Indonesia. This event marked the optimism of the company on the prospect of Indonesia. In different occasion Johnny Darmawan also stated that Toyota Indonesia will have to increase its Fortuner production to cater the Middle East and the Philippines market this year.

"I continue to believe that the Indonesian lead in this rank will sustain.This will make Indonesia the country with the strongest car industry in ASEAN. "

The demand for domestic sales as well as for export markets for Fortuner has been quite strong recently. Volkswagen officials have also stated that they will build a factory in Indonesia in 2012 for a full car manufacturing while this year they will start assembling its MPV, Touran, in cooperation with Indomobil.

One Korean car manufacturer is also in the process of deciding whether to put its factory in Indonesia or in Vietnam. Again, this shows the optimism of the global car manufacturers on the prospect of the Indonesian car industry.

In the mean time, the mathematics of demography has shown its magic in the last few months.

Indonesia has always stood at the third rank of the ASEAN car industry. However, in the last four months, Indonesian car sales have started to exceed its counterparts in Thailand and Malaysia.

As displayed in my previous articles, the number of the Indonesian people that belongs to the middle class is larger than the entire Malaysian population.

Similarly, 30 percent of the Indonesian population, slightly larger than the entire Thailand population, has a greater average income than the entire Thailand population. Therefore, that demographic picture and the distribution of income will eventually be reflected in the cars demand.

I continue to believe that the Indonesian lead in this rank will sustain and in fact the gap will widen in the next few years. This will make Indonesia the country with the strongest car industry in ASEAN.

I have predicted earlier that the Indonesian domestic car sales in 2010 will be in the range of 610,000 to 650,000 units. With the performance of the last five months, that target may be exceeded as long as the economic environment does not change significantly.

While I share the optimism of Johnny Darmawan for a 650,000-unit domestic car sales prediction for 2010, I will not be surprised if the car sales this year may reach higher than 700,000 units.

In the long-term prospect, Indonesia may hit its first million annual car sales in the next two to three years. With the pattern depicted by the Brazilian car industry, we may have 2 million sales in the next 10 years.

This prospect will be the center of attention of the global car manufacturers. For those who have been in the country, they will certainly prepare to expand. For those who are still outside, they will have to think about when to penetrate.

Industri Otomotif Nasional Harus Kuat

Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Johnny Darmawan mengatakan, Indonesia wajib memperkuat industri komponen otomotif di Indonesia. Pasalnya, gempa yang terjadi di Jepang, Maret 2011, membuat industri otomotif Tanah Air mengalami gangguan pasokan kendaraan dan suku cadang.

Johnny menjelaskan, Indonesia merupakan pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara dan terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Kesiapan industri otomotif dan pendukungnya menjadi sesuatu yang mutlak. Guna merealisasikan hal ini, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) berharap dukungan dari pemerintah, khususnya dalam hal perbaikan infrastruktur dan ketersediaan energi.

"Kita harus mulai memikirkan bagaimana memajukan industri otomotif nasional agar Indonesia bisa menjadi basis produksi. Ekspor menjadi salah satu keunggulan suatu negara ketika ditunjuk sebagai basis produksi," ujar Johnny yang juga Ketua Penyelenggara Indonesia International Motor Show 2011 (Ketua Penyelenggara IIMS 2011) dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, hari ini (3/5/2011).

Sementara itu, guna menggali pengembangan industri otomotif lokal, Gaikindo akan menggelar The 6th Indonesia International Automotive Conference bertema "The Indonesian Automotive Industry Post 1 Million Cars" di JIExpo, Jakarta, 21 Mei mendatang. Pada kegiatan ini diharapkan para pemegang keputusan otomotif Indonesia bisa menghasilkan satu agenda besar terkait masa depan industri ke depan, ke arah pengembangan teknologi ramah lingkungan.

Konferensi ini merupakan agenda tahunan yang akan dilaksanakan Gaikindo sebelum IIMS digelar pada Juli 2011. Tahun ini, Gaikindo juga menyambut kehadiran Pertamina sebagai sponsor utama pameran otomotif terbesar ini. Selain itu, Tokobagus.com sebagai sponsor pun turut memeriahkan perhelatan IIMS 2011. "Sebagai situs jual beli online terbesar di Indonesia yang kali ini berkesempatan mendukung event IIMS 2011, kami merasa antusias dan optimistis bahwa ajang tahun ini juga akan semarak sebagaimana tahun-tahun sebelumnya," kata Arnold Sebastian Egg, Presiden Direktur Tokobagus.com.

PT INKA segera membangun jaringan marketing dan aftersales GEA di seluruh Indonesia

Mobil nasional GEA produksi PT INKA yang rencananya akan dilaunching di Jakarta pada akhir Oktober 2010, sudah banyak peminatnya. Sayang, saat ini cuma bisa dibeli di Koperasi.

Dalam dua hari, mobil yang dipamerkan di acara Pameran dan Seminar Produk Alat Transportasi di gedung Gramedia Expo di Jalan Basuki Rahmat, Surabaya, sudah ada 33 orang yang memesan.

“Ya lumayan bagus. Masyarakat sangat antusias dan ingin membeli GEA,” ujar Ridwan tim GEA di lokasi pameran kepada detikOto, Jumat (1/10/2010).

Ridwan mengatakan, berdasarkan kebijakan perusahaan, mobil yang kapasitas penumpangnya 4 orang dan berbahan bakar Bio Fuel Engine (Premium dan LPG) seharga dibawah Rp 50 juta itu, tidak dijual retail atau perorangan.

“Banyak yang ingin langsung membeli dan ada yang ingin meminta kartu nama. Tapi tahap awal ini, penjualannya melalui koperasi. Usaha yang mempunyai koperasi bisa mengajukan, minimal pembeliannya 25 unit,” tuturnya.

GEA diprediksi dapat menarik masyarakat, untuk memilikinya sebagai micro car 650 CC, yang ekonomis, lincah dan tangguh. Namun, hanya bisa dibeli di koperasi.

“Kenapa kita pilih koperasi, karena suplai spare partnya maupun layanan service bisa ke koperasi tersebut,” tuturnya.

GEA adalah mobil micro car yang sistem pengeraknya, tipe intak : penggerak depan. Daya maksimum kapasitas : 20 kw/5300 rpm (650 CC). Suspensi depan maupun belakang dengan menggunakan Per keong dengan peredam kejut.

Transmisi mobil nasional ini tipenya manual dengan tingkat kecepatan 4 tingkat. Pengereman depan dengan menggunakan Disk Brake, sedangkan belakang rem tromol.

Dimensinya, mempunyai panjang 3.210 mm, lebar 1.430 mm, tinggi 1.705, jarak roda 1.984 mm, jarak tapak roda depan 1.277 mm dan jarak tapak roda belakang 1.267 mm. Kapasitas penumpang sebanyak 4 -5 orang dan kapasitas tangki sebanyak 30 liter, dengan perbandingan 1 : 25.

Setelah kantor pos, polri kini BUMN dan pemda seharusnya memiliki armada GEA karena super irit = 1:30

Meski menempatkan institusi sebagai bidikan pertama, PT INKA optimis mobil GEA juga akan mendapat sambutan publik (perseorangan). Pasalnya, konsumsi BBM GEA terbilang irit. 1 liter premium bisa untuk 30 km. Lalu bagaimana purna jualnya? Bagaimana soal perawatan dan ketersediaan suku cadang? PT INKA selaku produsen menyadari betul hal itu, karenanya jika jadi dipasarkan PT INKA berjanji segera juga membangun jaringan marketing dan aftersales di pelbagai kota.

“Kedepannya juga akan melakukan penjaringan marketing – marketing dari kelembagan yang ada di kota – kota besar namun kesemuanya masih menunggu hasil tes ujicoba oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) di Jakarta,” ujar Humas PT Inka Fathor Rashid, Rabu (8/10/2008).


























Rencana membuat jaringan besar untuk GEA tersebut tentunya juga menunggu respon dari masyarakat. Apabila publik juga antusias terhadap GEA, PT INKA tak kan menunggu lama untuk membuat jaringan aftersales di berbagai kota. “Semua bisa memiliki mobil GEA karena saya yakin nyaman dan irit BBM. Suku cadangnya murah dan perawatannya bisa dimana saja, sehingga daya beli masyarat juga banyak," jelas Rashid.

Rashid pribadi optimis GEA akan mendapat sambutan. Pasalnya, prilaku sebagian besar konsumen lokal cenderung menyukai mobil yang irit bahan bakar. Terlebih di jaman harga minyak naik gila-gila-an seperti saat ini. Nah, GEA menurutnya memberi solusi. Jika mempergunakan bahan bakar premium, menurut Rashid, konsumsi BBM GEA bisa mencapai 25-30 km untuk setiap liternya.Angka itu sudah nampak dalam hasil ujicoba yang telah dilakukan pada jalur Madiun, Ngawi, Ponorogo, Pacitan dan Magetan. "Dari pengujian 10 ribu Km tersebut selama 3 bulan mulai April hingga Juli oleh tim kami, terbukti memang irit dan suara mesin pun nyaris tidak bunyi," tambah Rasyid. Soal tanjakan jangan khawatir, jalur Sarangan yang penuh tanjakan pun menurut Rashid, mampu dilalui GEA.

Selain soal konsumsi BBM, harga yang murah dan perawatan yang mudah juga dihitung Rashid sebagai keunggulan kompetitif GEA dibandingkan kompetitornya kelak. Kalau sudah mendapat lampu hijau dari BPPT, PT INKA memprediksi bisa memberi harga GEA pada bandrol Rp 45- Rp 50 juta per unit.

GEA saat ini tengah dikembangkan oleh PT INKA dan telah menjalani ujicoba 10.000 km. Bahan bakar GEA diutamakan menggunakan BBG namun terbuka opsi untuk juga mengunakan BBM Premium mengingat tingkat konsumsinya yang sedikit. PT INKA sendiri masih memprioritaskan pasar institusi jikalau GEA nanti lolos uji BPPT. Namun, pasar personal juga dibuka lebar.

Medco Plans to Provide Natural Gas For Vehicles

Oil and gas company Medco E&P Indonesia aims to expand its downstream and retail business to offer natural gas to fuel vehicles starting next year, an executive said on Tuesday.

“We will try to expand to fuel for vehicles to compensate for our stagnant upstream business,” said Budi Basuki, president director of Medco E&P.

Demand for compressed natural gas for vehicles is low, and only Pertamina gas stations provide CNG, with its use limited to TransJakarta buses.

Medco E&P, a unit of Medco Energi Internasional, has three oil and gas blocks in Indonesia that produce about 180 million cubic feet per day of natural gas and 30,000 barrels of oil per day. Among the buyers for its gas are Palembang-based fertilizer company Pupuk Sriwijaya and state utility Perusahaan Listrik Negara’s power plant in South Sulawesi.

Given its gas production, Budi said Medco E&P has committed to provide up to 25 mmscfd for Jakarta. It plans to build one gas station in the capital next year.

“I hope we can start to sell gas fuel next year,” he said, adding that building a gas station would require about Rp 1 billion ($116,000) in investment.

The money will come from the company’s capital expenditure fund. It has allocated $233 million for capital expenditure this year, double its capex spending from last year, as it continues to exploit its oil and gas fields, including its 29.9 percent stake in the Donggi-Senoro natural gas project.

Budi said the plan was one of the company’s strategies to develop cleaner energy for vehicles.

“We will try to build the natural gas station first. Then we will cooperate with other parties, such as the government, to provide converter kits for vehicles,” he said.

Medco E&P has an agreement with Mandiri, a small company that provides CNG for vehicles in Palembang, to study the demand for the fuel in Jakarta.

“That also includes a strategy on how we can campaign for more CNG use by vehicles,” Budi said.

Volkswagen Beetle 2012 Hasil Karya Desainer Indonesia

TEMPO Interaktif, Jakarta - Desain ulang Volkswagen Beetle telah dipikirkan sejak 2007 dan benar-benar merupakan upaya global. Mobil itu akhirnya terungkap pada hari Senin di New York dan Shanghai, dan akan diproduksi di Meksiko.

Mobil itu merupakan hasil sketsa selama empat tahun dari seorang desainer Indonesia yang mengonsep ulang mobil impiannya itu menjadi kenyataan di Beetle 2012.

Chris Lesmana membuat desain yang menjadi headline minggu ini, dan dengan beberapa penyesuaian proporsional, impiannya itu akan menjadi kenyataan di jalan-jalan Amerika musim gugur ini.

Lesmana yang saat ini tinggal di Jerman tidak bisa datang ke acara peluncuran di AS karena tugas keluarga, tapi ia diharapkan menghadiri acara Beetle di Berlin.

Desainer Exterior Frank Bruse yang mewakili Lesmana di New York menggambarkan upaya Lesmana itu kepada AutoWeek sebagai "seseorang yang dapat merancang versinya tentang mobil impian."

Lesmana dan Bruse tumbuh bersama Beetle sebagai mobil keluarga dan desain yang lama lebih terbawa ke versi baru. Mobil terbaru ini yang lebih bundar dan condong diarahkan ke pengguna wanita. Model 2012 itu memiliki atap lebih rendah, roda yang lebih besar, atap panjang, dan interior yang sporty --minus vas bunga.

"Ini jauh lebih dekat dengan yang lama daripada Beetle baru," kata Bruse tentang produk terbaru. "Kami memutuskan untuk kembali ke tema awal."

Rancangan itu telah memenangkan perhatian bos Grup Volkswagen, Martin Winterkorn, yang memberi lampu hijau untuk rancangan akhir yang merupakan gagasan Lesmana.

"Rancangan itu begitu baik di awalnya, kami hampir tidak mengubahnya," kata Bruse.

Dengan 23 juta terjual di seluruh dunia selama jangka panjang--termasuk enam juta di Amerika Serikat--Beetle bukan subjek mudah untuk mengalami penyegaran. Mobil itu telah didesain ulang dua kali dalam perjalanan untuk menjadi kekuatan penjualan dan ikon budaya VW di seluruh dunia.

Versi convertible akan menyusul tahun depan dan versi R line juga diharapkan menyusul. Desain baru ini ditandai dengan spatbor semakin ditarik ke luar, lampu bixenon, dan interior yang berwarna-warni, dengan dashboard sesuai warna badan mobil.

"Anda tidak mengubah mobil seperti itu secara iseng," kata Kepala Volkswagen, AS Jonathan Browning.

Indonesia's MLRS range 10-400 km

A multiple rocket launcher (MRL) is a type of unguided rocket artillery system. Like other rocket artillery, multiple rocket launchers are less accurate and have a much lower (sustained) rate of fire than batteries of traditional artillery guns.

However, they have the capability of simultaneously dropping many hundreds of kilograms of explosive, with devastating effect.

First developed in 1409, the Korean Hwacha is the most likely example of the first weapon system with a resemblance to the modern-day multiple rocket launcher. The first modern multiple rocket launcher was the German Nebelwerfer of the 1930s, a small towed artillery piece. Only later in World War II did the Allies deploy similar weapons in the form of the Land Mattress.




NDL-40
NPU-70
The Indonesian designed and built NDL-40 Ground to Ground Multi Launcher 2.75", Rocket System has been designed and is in the process of testing. This devices used as FFAR 2.75" Multi-Launch Rocket System. The FFAR 2.75 " rocket system is a ground-to-ground weapon system designed to support infantry units in the field. Each system is comprised of 4 modules, each containing 5 rockets (a total of 20 rockets in a system). The modules may be used independently of each other or in any combination with any other module. This provides many useful configurations for the support of field infantry units. The NDL-40 system operator is approximately 15 meters away from the actual launchers and may adjust the fire control system to variety of different settings. The firing time (0.1 to 9.9 seconds interval) as well as the mode of launch (single, ripple or salvo firing) may be determined by the field operator.

FFAR 2.75" (70 mm or 2.75") rockets motors are manufactured by the flow forming process. The first batch underwater dynamic testing was successfully done in June 1985. This was the last test required in work frame of certification testing. This dynamic test was a success and since then the flowformed tubes were used in production of the FFAR. By using the rocket launcher [also called LAU 97] that has 40 launching tubes and enables "single" or "ripple" firing, the rocket can be fired within 6 seconds each. The impact pattern for such firing is 200 m x 300 m. The rocket launcher it self can go through a 360� azimuth position and has a maximum elevation of 50�. Its unladen weight is 365 kg.; with 40 rockets fitted with the FZ-71 warhead, it weights 935 kg. For firing the rockets one must reckon upon an interval of 150 msec with a "ripple" firing. Its high mobility and firing power make it a highly effective weapon. By using the MK-40 motor, its range is about 6,000 m. and when used with FZ-68 motor its range is about 8,000 m.




NPU-70 (Nusantara Poly-Urethane 70) is developed by IPTN at the stage of technological integration, while prior to this, during the stage of licensing, the factory manufactured FFAR 2.75" and SUT. Rockets with a surface-to-surface launching system and/or 70 mm caliber, NPU-70, will be produced by IPTN are already on a stage of research qualification and installed component development testing. The serial production was scheduled to take place in 1994/1995.




The first iron-cased metal-cylinder rocket artillery were developed by Tipu Sultan, an Indian ruler of the Kingdom of Mysore, and his father Hyder Ali, in the 1780s. He successfully used these metal-cylinder rockets against the larger forces of the British East India Company during the Anglo-Mysore Wars. The Mysore rockets of this period were much more advanced than what the British had seen, chiefly because of the use of iron tubes for holding the propellant; this enabled higher thrust and longer range for the missile (up to 2 km range).

According to Stephen Oliver Fought and John F. Guilmartin, Jr. in Encyclopedia Britannica (2008): "Hyder Ali, prince of Mysore, developed war rockets with an important change: the use of metal cylinders to contain the combustion powder. Although the hammered soft iron he used was crude, the bursting strength of the container of black powder was much higher than the earlier paper construction. Thus a greater internal pressure was possible, with a resultant greater thrust of the propulsive jet.

The rocket body was lashed with leather thongs to a long bamboo stick. Range was perhaps up to three-quarters of a mile (more than a kilometre). Although individually these rockets were not accurate, dispersion error became less important when large numbers were fired rapidly in mass attacks.

They were particularly effective against cavalry and were hurled into the air, after lighting, or skimmed along the hard dry ground. Hyder Ali's son, Tippu Sultan, continued to develop and expand the use of rocket weapons, reportedly increasing the number of rocket troops from 1,200 to a corps of 5,000. In battles at Seringapatam in 1792 and 1799 these rockets were used with considerable effect against the British."

After Tipu's eventual defeat in the Fourth Anglo-Mysore War, the Mysore iron rockets were captured by the British. These rockets were influential in British rocket development, inspiring the Congreve rocket, which were soon put into use in the Napoleonic Wars, including at the Battle of Waterloo. Ironically, the technology of metal-cylinder missiles developed by Tipu Sultan contributed to the defeat of his ally Napoleon at Waterloo.

Indonesia's MLRS using Anoa




Rocket Kal 122mm D230 Range: 20-30km




RX 1215 Range: 15km
Guided RX 2020 Range: 44km
Rocket X 1210 Range: 11km


RX 1213 Range: 12km folded fin
RX 1213/1210 Range: 18km fixed fin separasi



Rocket RX-420 Range: 110 km Speed: 4,4 mach





RX-250 Range: 50 km


RX-320



NDL-40




Roket R-Han 122 MLRS








RX 540






RX 750






1. RX-100 MLRS
diameter 110 mm, range 11 km

2. RX-150-120 MLRS
Diameter 150 mm, range: 13 km

3. RX-240 MLRS
diameter 240 mm range jangkauan 24 km

4. RX-250 MLRS
diameter 250 mm range 27,9 km

5. RX-320 MLRS
diameter 320 mm

6. RX-420 MLRS
Diameter 420 mm range 101 km

7. RX-520 MLRS
diameter 520 mm range range: 200 km

8. RX-530 MLRS
diameter 530 mm range 320 km









Comparisons:

Malaysia Astros MLRS





Singaporean MLRS M142 (HIMARS)


Thailand DT-1 multiple launch rocket system


China WS-2 MLRS


The South Korean K-136 Kooryong MLRS


Others