Jembatan Suramau Terpanjang di ASEAN

Kini Pulau Jawa dan Madura sudah menyatu dengan tuntasnya pembangunan jembatan Suramadu. Jalan panjang dan berliku harus dilalui, untuk mewujudkan jembatan sepanjang 5.438 meter yang melintasi Selat Madura dan menelan dana sekitar Rp 4,5 triliun tersebut.

Suramadu rencananya akan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, pada 10 Juni 2009. Sejarah Suramadu berawal pada 1960-an saat guru besar dari ITB (Intitute Teknologi Bandung) Prof Dr Setyadmo (alm) mengusulkan terbosan berani di zaman itu, yaitu menghubungkan Pulau Jawa dengan Sumatra. Ide gila itu mendapat respon berbagai pihak, dan pada 1965 dibuat desain oleh ITB jembatan melintasi Selat Sunda tersebut.

Gagasan dan konsep pengembangan jembatan antarpulau tersebut, tahun 1986 dikemukakan kepada penguasa orde baru saat itu, Soeharto. Namun, meluas tidak hanya menyatukan Pulau Jawa dan Sumatra saja, tapi juga Pulau Jawa-Madura dan Jawa-Bali, dikenal dengan nama Tri Nusa Bima Sakti.

Menristek, Kepala BPPT saat itu, B.J. Habibie, mendapat tugas untuk mengkaji pembangunan tiga jembatan spekatakuler menyatukan Pulau Sumatra dan Jawa, berikutnya Pulau Jawa dan Madura serta Pulau Jawa dan Bali.

Dari tiga jembatan melintasi selat yang menyatukan pulau satu dengan lainnya itu, secara teknologi dan finansial, tahap awal lebih memungkinkan menyatukan Pulau Jawa dengan Madura. Jembatan sepanjang lebih dari lima kilometer di Selat Madura itu dibangun dengan kontruksi konvensional berupa tiang pancang beton dengan bentang tengah berupa konstruksi gantung seperti halnya golden gate di San Fransisco, AS.

Sementara pembangunan jembatan di Selat Sunda, memerlukan dana besar dan teknologi mumpuni (sepanjang sekitar 26 km). Sedangkan jembatan yang menyatukan Jawa dan Bali, selain palung di Selat Bali dalam yang memerlukan teknologi khusus, juga adanya tentangan dari pemerintah dan masyarakat Pulau Dewata, yang kuatir arus urbanisadi dari Jawa ke Bali makin tinggi.

Namun, pecinta lingkungan berdalih lain, jembatan Jawa-Bali akan merusak habitat burung endemis Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) yang hanya ada di Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Pasalnya, jalan akses jembatan melintas Selat Bali tersebut menembus atau membelah kawasan TNBB.

Akhir tahun 1980-an, ide pembangunan jembatan Suramadu (Surabaya-Madura) terus bergulir. Keinginan merealisasikan jembatan Suramadu makin mengebu, pada awal tahun 1990-an dimana gubernur Jatim saat itu dijabat Soelarso, B.J. Habibie kembali menggulir rencana pembangunan jembatan melintasi Selat Madura.

Ini seiring dengan dikukuhkannya pembangunan jembatan Suramadu sebagai jembatan nasional melalui Keputusan Presiden, Nomor 55 Tahun 1990.

Era Gubernur Soelarso itulah, mulai melakukan pembebasan lahan di sisi Surabaya maupun Kamal, Kabupaten Bangkalan, Madura. Perjalanan jembatan Suramadu tertatih-tatih, dimana saat gubernur Jatim dijabat Basofi Soedirman, pada akhir masa jabatannya dan Habibie menjabat presiden di awal orde reformasi, wujud fisik jembatan belum juga tampak.

Baru saat Presiden digenggam Megawati Soekarnoputri-lah pada 20 Agustus tahun 2003, wujud fisik pembangunan jembatan Suramadu mulai tampak. Setelah enam tahun masa pembangunan, tanggal 23 Maret 2009 sekitar pukul 23.00 WIB, tersambung lah steel box girder pada segmen 18 (bentang tengah), yang merupakan sambungan terakhir atau penutup jembatan yang menghubungkan sisi Surabaya dengan Madura.

"Ini merupakan pekerjaan yang paling sulit (penyambungan bentang tengah)," kata A.G. Ismail, kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan nasional V Dep. PU, saat upacara penyambungan bentang tengah yang juga dihadiri Dirjen Bina Marga Dep. PU, Hermanto Dardak dan Dubes China untuk Indonesia, Zhang Qi Yue.Saat acara itu, Herman Dardak mendapat sambutan salam tangan dari pekerja Suramadu, asal Indonesia dan China. Di lokasi itu juga berkibar dua bendera, Sang Merah Putih dan bendera China berdampingan, sebagai gambaran proyek prestisius itu digarap konsorsium dua negara.

Jembatan Suramadu sepanjang 5.438 meter, merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara (hingga kini) yang kini menjadi landmark dan ikon Indonesia.

Dana yang ditelan jembatan Suramadu sekitar Rp 4,5 triliun. Pembangunannya terdiri atas tiga bagian, yaitu "causeway" (jembatan penghubung), "aproach bridge" (jembatan pendekat antara "causeway" dan "main bridge"/bentang tengah).

Tenaga kerja terlibat dalam proyek ini sekitar 3.500 orang, dimana untuk membangun jembatan melintasi Selat Madura ini menghabiskan sedikitnya 28 ribu ton baja dan 600 ribu ton campuran baja.
Dengan telah tersambungnya bentang tengah tersebut maka pengerjaan proyek Suramadu tinggal dua tahap lagi, yaitu perampungan jembatan penghubung antara "causeway" dengan bentang tengah yang ditargetkan tuntas Juni 2009 tuntas dan siap diresmikan.

sumber : inilah.com