Krisis Masih Jauh Dari Selesai

(Vibiznews – Economy) – Mantan orang nomor satu di Bank Sentral AS, Alan Greenspan, menyatakan (21/05) bahwa krisis ekonomi global saat ini masih jauh dari usai. Walaupun Fed telah menurunkan suku bunga secara drastic nyaris 0%, perbankan di AS tetap harus meningkatkan permodalan dalam jumlah besar. Hal ini juga ditunjukkan dengan data perumahan di AS yang masih jauh dari pulih.

Indikator makroekonomi yang dirilis baru- baru ini juga menunjukkan bahwa perekonomian global belum akan pulih. Seperti data penjualan ritel di AS yang pada bulan April lalu justru melemah sebesar 0,4% month on month (mom). Padahal para ekonom memperkirakan sebesar 0% mom. Namun angka tersebut masih lebih baik dari bulan sebelumnya yang tumbuh -1,3% mom.

Masih turunnya penjualan ritel di AS menunjukkan daya beli konsumen di AS masih melemah. Selain itu pada pekan ini terjadi klaim pengangguran AS adalah sebanyak 637 ribu orang atau lebih tinggi dari estimasi ekonom yang memperkirakan sebesar 608 ribu. Hal ini menandakan sektor ekonomi di AS masih tertekan sehingga PHK masih terjadi di berbagai sektor industri.

Analisis Divisi Vibiz Research unit dari Vibiz Consulting melihat saat ini secara umum resiko masih tinggi. Hal ini yang membuat pemulihan ekonomi global bergerak lambat. Walaupun suku bunga sudah nyaris 0% namun karena resiko masih tinggi dan ketatnya likuiditas membuat sektor keuangan masih kaku dalam menyalurkan kredit. Fenomena ini dalam ilmu ekonomi dikenal dengan liquidity trap. Untuk itu maka Fed harus melakukan langkah lain diluar suku bunga missal dengan masuk ke pasar uang secara langsung lebih besar guna meningkatkan jumlah uang beredar.

(Chaerul/CH/vbn)



Rupiah Berakhir Lemas, Investor Pilih Keluar Sementara dari Pasar
Rabu, 20 Mei 2009 17:55 WIB

(Vibiznews – Economy) – Pada akhir perdagangan di pasar spot antar bank Jakarta sore hari ini tampak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan (20/05). Rupiah tersandung ke zona negatif mengikuti aksi ambil untung yang terjadi di lantai bursa. Kebutuhan valas korporasi di akhir bulan ikut menekan rupiah.

Pada perdagangan valas hari ini rupiah tampak ditutup melemah 17 poin ke posisi 10.327 per dolar AS. Rupiah hari ini sempat menguat ke 10.241 per dolar AS namun tidak bisa bertahan lama karena aksi ambil untung.

Pelaku pasar juga memilih konsolidasi karena Kamis besok pasar finansial dalam negeri libur nasional memperingati hari Kenaikan Isa Al-Masih. Meski Jumat 22 Mei pasar sudah buka kembali namun diprediksi tidak begitu ramai karena pelaku pasar mengambil posisi keluar sejenak dan baru masuk lagi Senin 25 Mei 2009. Pelaku pasar khawatir selama libur akan ada kejadian buruk di pasar New York.

Analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting memperkirakan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari Jumat besok akan cenderung melemah terkena aksi ambil untung. Pergerakan bursa saham yang juga diperkirakan sepi membuat mata uang lokal ini sulit bergerak menguat.

(Ika Akbarwati/IA/vbn)



Rupiah Konsolidasi Sejenak Setelah Rally
Rabu, 20 Mei 2009 09:20 WIB

(Vibiznews – Economy) – Pada perdagangan hari ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tampak mengalami penurunan (20/05). Koreksi yang terjadi pada rupiah ini disebabkan oleh kenaikannya yang memang sudah terlalu tajam. Mata uang ini rehat sejenak dan mengalami penurunan yang cukup wajar.

Meskipun demikian analis Vibiz Research dari Vibiz Consulting menilai bahwa rupiah masih bisa kembali menguat ke zona hijau karena meomentum positif yang ada di pasar masih bisa menjadi pelindungnya. Arus dana yang masuk ke pasar saham dan SUN menjadi berkah rupiah.

Pada perdagangan valas di pasar spot antar bank Jakarta pagi hari ini rupiah ada di posisi 10.305. Mata uang ini membukukan penurunan sebesar 25 poin dari penutupan perdagangan sebelumnya. Hari ini rupiah telah ditransaksikan di kisaran 10.300-10.310 per dolar AS. Rupiah hari ini diprediksi akan bergerak di posisi 10.260-hingga 10.350 per dolar AS.

Semangat rupiah tidak terlepas dari pergerakan di pasar saham serta imbas penguatan di mata uang regional. Pelaku pasar juga menilai ekonomi Indonesia memiliki fundamental yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi (GDP) 4,4% di triwulan I-2009.

(Ika Akbarwati/IA/vbn)